News Room, Kamis ( 06/02 ) Warga di Pulau/Kecamatan Sapeken, harus menerima imbas dari cuaca buruk yang terjadi satu bulan terakhir ini. Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah setempat langka, akibatnya selama satu pekan gelap gulita, mesin listrik tidak hidup. Karena selama cuaca buruk, BBM jenis solar langka tidak ada pasokan dari daratan. Saat malam hari warga hanya menggunakan lilin dan lampu teplek. Selain langka, harga BBM jenis solar dan premium naik dari harga normal Rp. 9.000,00 menjadi Rp. 15.000,00 per-liter. Dulsiam Anggota Dewan asal Sapeken, sejak cuaca buruk memang tidak ada kapal yang berani berlayar. Pasokan BBM pun tersendat, sehingga stoknya habis dan mesin listrik tidak beroperasi. “Sudah satu minggu ini dipulau kami tidak menggunakan listrik. Hanya menggunakan lilin sebagai penerang di malam hari. Imbas dari kurangnya pasokan BBM terkendala transportasi di laut selama cuaca buruk berlangsung.”kata Dulsiam, Kamis (06/02). Hanya Sebagian saja rumah warga lampunya menyala menggunakan mesin jenset pribadi sedangkan bagi warga yang tidak mampu terpaksa menggunakan lilin dan lampu teplek di malam hari. "Bagi yang punya jenset pribadi bisa menikmati penerangan. Tapi warga lain ya terpaksa pakai lilin dan lampu teplek,"terangnya. Bahkan, aktivitas perekonomian macet semenjak cuaca buruk selama sepekan terahir ini. “Kami sempat mengusulkan,khusus cuaca buruk ada fasilitas transportasi udara yaitu kapal Helikopter untuk pendistribusian BBM serta kebutuhan pokok lainnya ke kepulauan. Namun usulan kami tidak digubris dianggap tidak rasional. Sebab transportasi udara sangat mahal,"ungkapnya. Ia berharap dengan membaiknya cuaca di Perairan Sumenep ini, pasokan BBM ke Sapeken bisa kembali lancar. "Kasihan warga, utamanya para pelajar kalau listrik padam. Mereka tidak bisa belajar di malam hari,"pungkasnya. ( Nita, Esha )