Sumenep-Infokom News Room : Setelah disorot beberapa kali oleh berbagai kalangan LSM dan Anggota Dewan tentang masalah TKI, kini Disnakertrans Sumenep kembali mendapat kritikan mengenai Program bantuan yang diberikan kepada masyarakat. Seperti diketahui, Disnakertrans Sumenep pada tahun 2004 ini memiliki program bantuan berupa alat-alat keterampilan seperti mesin jahit, mesin obras dan mesin bordir. Ada pula yang berupa mesin pemotong batu. Peralatan mesin-mesin itu diberikan kepada masing-masing kelompok yang tersebar dibeberapa Kecamatan yang sebelumnya diberikan pelatihan terlebih dahulu. Namun dalam pelaksanaannya, mesin bantuan tersebut sudah banyak yang diambil oleh masing-masing kelompok yang merasa sudah dijanjikan pihak Disnakertrans. Bahkan ada yang diambil pada malam hari, tanpa dilakukan serah terima oleh Kasubdin yang menanganinya. Akhirnya ada beberapa komplain dari beberapa kelompok yang merasa telah didahului oleh kelompok lain, karena kelompok tersebut tidak memperoleh apa-apa. Ketua LSM PPBI, Yakup Ibrahim menilai pihak Disnakertran kurang professional dalam menangani bantuan tersebut. Sebab menurut Yakup, dalam pantauannya dilapangan banyak kelompok yang merasa haknya telah diserobot oleh kelompok lain. Seperti halnya yang terjadi pada kelompok di Kecamatan Kalianget. Awalnya kelompok yang terdaftar dan mengajukan adalah kelompok Mekar Jaya di Desa Kalianget Timur. Bahkan kelompok ini telah di survei oleh Tim dari Disnakertrans, diketahui Kepala Desa setempat dan Camat Kalianget. Bahwa kelompok tersebut benar-benar layak untuk memperoleh bantuan. Namun menurut Yakup tiba-tiba ketika Kelompok tersebut menanyakan kelanjutan bantuan tersebut, ternyata mesin bantuan sudah ditangan orang lain yang mengatas namakan kelompok Mawar. Padahal sebelumnya tidak pernah ada pengajuan dari kelompok Mawar ini. Ternyata menurut Yakup, kelompok ini mengajukan permohonan setelah mesin telah diambil. “Ini ‘kan sudah tidak benar, mana mungkin ada bantuan tanpa permohonan terlebih dahuluâ€, ujar Yakup. Namun setelah sempat terjadi komplain, Kadisnakertrans membuat kebijakan, agar bantuan tersebut dibagi dua kelompok itu, karena jumlah mesin bordil itu sebanyak 10 unit, jadi masing-masing kelompok mendapat bagian 5 mesin. Namun sambil menunggu pelatihan, pihak Disnakertrans kemudian mengambil kembali 10 mesin yang sudah ada di kelompok Mawar Desa Kalimo’ok itu. Dengan alasan karena dianggap bermasalah, bahkan di Kecamatan lain juga banyak yang dicabut kembali. Yakup berharap seharusnya bantuan tersebut tetap harus diberikan kepada kelompok yang benar-benar layak untuk mendapatkan bantuan Pemkab tersebut. ( Ren, Esha )