News Room, Sabtu ( 09/11 ) Wilayah Kepulauan Masalembu, Kabupaten Sumenep, makin tidak berkutik dengan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melanda selama 2 bulan terakhir ini. Kondisi itu berkibat terhadap ketersediaan premium maupun solar kian sulit didapat, akibatnya masyarakat tidak bisa menikmati aliran listrik dan perekonomian tersendat. Saat ini, Kepulauan Masalembu gelap gulita, karena mesin diesel yang berbahan solar tak berfungsi. Salah seorang tokoh muda Masalembu, Hasan mengatakan, mesin diesel itu merupakan satu-satunya sumber penerangan di Pulau Masalembu. Ketika solar mulai langka, maka mesin PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) tidak bisa lagi dioperasikan. “Sudah hampir sepekan ini PLTD tak berfungsi, dan aliran listrik mati. Sekarang, Pulau Masalembu menjadi gelap gulita dan perekonomian termasuk komunikasi lewat telepon gengam pun tersendat,”katanya. Selain itu, lanjut Hasan, sebagian besar warga Masalembu yang bermata pencaharian sebagai nelayan terpaksa tak melaut, karena tidak ada solar sehingga kapal tidak bisa beroperasi. “Ketika solar lenyap, nelayan pun tidak bisa melaut karena tidak ada bahan bakar bagi perahunya. Maka secara otomatis warga tidak bisa mencari uang,”terangnya. Hasan mengaku tidak habis pikir dengan kelangkaan BBM berkepanjangan yang terjadi di Pulau Masalembu. Padahal sudah ada APMS (Agen Premium Minyak dan Solar) yang semestinya bisa memenuhi kebutuhan masyarakat akan BBM bersubsidi. “Diduga ada permainan antara pengelola APMS dengan para pedagang besar yang menjual BBM di Masalembu. Terbukti BBM di APMS sering habis dalam waktu singkat,”ujarnya. Sementara anggota DPRD Sumenep asal Masalembu, Darul Hasyim Fath mengungkapkan, krisis BBM di Masalembu ini seakan dibiarkan berlarut-larut oleh pemerintah setempat. “Sampai sekarang belum ada tindakan cepat sebagai solusi yang dilakukan pemerintah. Sekalipun warga Masalembu menjerit soal langkanya BBM, pemerintah belum berkutik,”tegasnya. Ia mendesak Pemkab mengambil langkah tegas untuk menyelesaikan persoalan krisis BBM di kepulauan tersebut. Salah satunya, dengan mengusulkan punishment atau hukuman pada pebisnis nakal. “Selama ini kan Pemkab, dalam hal ini Kabag Perekonomian belum berani mengambil langkah tegas. Andai saja ada tindakan dengan punishment, saya yakin BBM di Masalembu akan tersedia dengan baik,”pungkasnya. ( Nita, Esha )