News Room, Kamis ( 15/03 ) Lemahnya komunikasi menjadi salah satu pemicu banyaknya persoalan bangsa yang sulit dan tidak kunjung bisa terpecahkan, kata Ketua Dewan Pers, Prof. Dr. Bagir Manan di sela-sela Seminar dan Rakernas Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komunikasi di Bandung, Rabu (14/03) kemarin. "Komunikasi bukan hanya sekedar cara memindahkan informasi dan hubungan, tetapi juga merupakan sistem sosial dan budaya. Lemahnya komunikasi menjadi salah satu penyebab banyaknya persoalan bangsa yang terjadi saat ini,"katanya. Ia menyatakan pentingnya kajian komunikasi bagi bangsa Indonesia yang dibangun dari masyarakat yang heterogen. Potensi ilmu komunikasi menurutnya tidak terbatas, tidak seperti disiplin ilmu lainnya yang perkembangannya tidak terlalu besar. Komunikasi terus berkembang karena kehidupan juga terus berkembang. "Banyak persoalan bangsa ini yang seharusnya bisa diselesaikan dengan komunikasi, tetapi tidak terjadi karena penurunan kesadaran pentingnya komunikasi di pemerintah dan masyarakat,"kata Bagir. Ia juga menyebutkan banyaknya kesulitan perkembangan penelitian di Indonesia, antara lain sistem pengajaran belum sepenuhnya ilmiah, banyak tenaga akademik hanya bermotif mencari pekerjaan. Selain itu keterbatasan penelitian ilmiah yang disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kebijakan anggaran penelitian yang kurang memadai, rendahnya respon penelitian dari pemerintah dan tidak adanya pemanfaatan dari penelitian yang dilakukan. "Penelitian di Indonesia juga terlalu menekankan manfaat praktis yang dicapai demi pembangunan, padahal penelitian ilmiah tidak selalu menimbulkan manfaat praktis seketika," kata pria yang mantan Ketua MA itu. Bagir manan mencontohkan penelitian tentang pengkajian sebuah teori, yang dirasa sangat penting untuk kemajuan disiplin ilmu tersebut. Keterbatasan bahan dan penguasaan bahan ilmiah, dalam hal ini adalah jumlah perpustakaan yang masih sangat minim dan juga minat baca yang rendah. Disamping itu juga masih rendahnya wawasan dan cara berpikir ilmiah atau dorongan untuk mencari batas-batas keilmuan baru. Termasuk pula penguasaan bahasa asing masih sangat rendah. "Keterbatasan publikasi hasil penelitian dan belum banyaknya media yang mengekspos hasil penelitian yang dilakukan para peneliti, sehingga banyak penelitian yang tidak diketahui oleh publik,"kata Bagir menambahkan. ( Antara, Esha )