Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 12-07-2021
  • 1192 Kali

Bagi NU, Ittiba’ Pada Ulama, Ya Taat Prokes!

Media Center, Senin ( 12/07 ) Di tengah lonjakan kasus COVID-19 meningkatkan ikhtiar lahir maupun batin dianggap sangat penting dilakukan setiap warga negara Indonesia, mengingat keselamatan bangsa dan negara saat ini dipertaruhkan.

Hal itu diungkapkan KH. Moh. Alwi, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Gapura, dalam doa bersama dan pembacaan burdah, di Aula Aswaja Lantai II Kantor MWCNU setempat, Sabtu (10/07/2021) kemarin.

“Di tengah kondisi yang semakin mencekam ini, marilah kita tingkatkan kewaspadaan dengan selalu berikhtiar baik lahir maupun bathin. Ikhtiar lahir kita wujudkan dengan mematuhi protokol kesehatan, kemudian ikhtiar bathin kita lakukan dengan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ungkap Kiai Alwi.

Kendati begitu, ia juga mengingatkan agar masyarakat tetap tenang dan tidak cemas. Sebab bilamana masyarakat panik dan cemas, maka akan berpengaruh terhadap penurunan imunitas tubuh. Sehingga lebih mudah diserang virus.

“Saya berharap, masyarakat tetap tenang dengan kondisi yang mencekam ini. Namun tetap harus waspada. Tetap disiplin protokol kesehatan, sebab ini adalah bentuk kepedulian kita pada sesama. Menyelamatkan bangsa dan negara serta menekan angka penyebaran COVID-19,” pesannya.

Patuh terhadap protokol kesehatan, menurut Kiai Alwi, juga merupakan wujud dari meneladani para ulama. Sebab, sebagaimana dimafhum, para kiai dan ulama di pesantren sangat ketat dalam menerapkan protokol kesehatan.

“Ini sudah dicontohkan oleh para ulama kita dan guru-guru kita di pesantren. Kita sebagai santri, sebagai warga NU, wajib ikut guru,” tegasnya.

Senada, ittiba’ ulama atau ikut ulama ini, dibenarkan oleh Kiai Muhammad Syahid Munawar, Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumenep. Menurutnya, sebagai warga NU harus meneladani para kiai dan ulama. Tidak terkecuali soal penerapan protokol kesehatan.

“Sebagai warga NU, sebagai santri sudah seharusnya ikut kiai. Masak iya, kiai-kiai kita di pesantren sangat patuh terhadap protokol kesehatan, kita santrinya malah abai. Harusnya kita meneladani beliau,” tuturnya. ( Han )