News Room, Rabu ( 23/11 ) Desa Kasengan Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep, menyimpan banyak cerita bersejarah yang terkait dengan beberapa tokoh besar Kabupaten setempat. Seperti Pangeran Lor dan Sultan Abdurrahman. Keduanya merupakan penguasa bumi Sumekar di masa kerajaan.
“Kasengan berasal dari ka-asengan, yaitu tempat untuk mengasingkan diri,” kata R. B. Nurul Hidayat, salah satu pemerhati sejarah muda di Kabupaten Sumenep, pada News Room.
Mengasingkan di sini ialah uzlah, menjalankan laku tirakat dengan menjauhkan diri dari keramaian. Orang biasa menyebut dengan kata lain; bertapa.
“Yang pertama bertapa di Kasengan itu Pangeran Lor ke-I, Adipati Sumenep setelah ayahnya, Tumenggung Kanduruan,” kata Nurul.
Dari sejak itu daerah atau lokasi pertapaan pangeran Lor dikenal dengan nama Kasengan. Di lokasi pertapaan itu ada pohon Nagger yang dikenal dengan nama Nangger Pangongnganan. “Dulu biasa dipakai orang untuk mengongngang atau melihat datangnya awal bulan,” cerita Nurul.
Karena yang bertapa adalah seorang raja, maka Kasengan menjadi tempat khusus yang dijaga oleh orang khusus dari Keraton. Lokasi pertapaan Pangeran Lor itu tepatnya di sebuah gua, yang dikenal dengan gua kalabangan. “Penjaga gua itu diberi hak memanfaatkan tanah sekitar pertapaan. Sekaligus juga memanfaatkan sarang burung dalam gua,” imbuh Nurul.
Lokasi pertapaan Pangeran Lor juga digunakan oleh Sultan Sumenep, Abdurrahman Pakunataningrat. Bahkan, konon, saat Pangeran Diponegoro ditangkap dan dibawa ke Sumenep juga sering bertapa di gua kalabangan. “Hingga wafatnya, yang berdasar riwayat sesepuh Keraton. Makanya makam beliau berada di kawasan Asta Tinggi,” tutup Nurul. ( M. Farhan, Fer )