Media Center, Jumat ( 15/05 ) Lenteng merupakan nama salah satu kecamatan di Kabupaten Sumenep, yang di masa kuna dulu memiliki akar sejarah panjang. Kecamatan ini berjarak lebih kurang 11,3 kilometer dari ibu kota kabupaten ke arah barat.
Di masa awalnya, Lenteng merupakan nama desa kecil yang selanjutnya bermetamorfosis menjadi kawedanan, dan terakhir kecamatan. Nama Lenteng sendiri kini dimekarkan menjadi Desa Lenteng Barat dan Lenteng Timur. Pusat kecamatan saat ini berada di Desa Ellak Laok (Ella’ Lao’). Jumlah total desa di kecamatan ini ada 20.
Secara historis, Lenteng sudah ada sejak abad 13. Di kala itu Sumenep di bawah kekuasaan Jokotole alias Ario Kudapanole (1415-1460 Masehi).
Huub de Jonge dalam karyanya, “Agama, Kebudayaan, dan Ekonomi: Studi Interdisipliner tentang Masyarakat Madura (1989, 56)” menyebut Lenteng berperan penting dalam pelestarian berbagai seni kebudayaan khas Madura hingga dewasa ini.
R. Nurul Hidayat, salah satu pemerhati sejarah Sumenep mengatakan bahwa hal itu tidak terlepas dari fakta sejarah, bahwa di Lenteng lah terdapat pusat kegiatan ekonomi lokal dengan tembakaunya.
“Sehingga kebanyakan juragan-juragan yang kaya raya menetap di kawasan ini. Sehingga terjadi akvitas melestarikan budaya. Seperti budaya karapan sapi yang jelas membutuhkan modal besar, dan di situlah peran-peran para juragan kaya itu,” kata Nurul, Jumat (15/05/2020).
Kembali pada asal usul nama Lenteng, menurut kisah tutur, nama Lenteng merupakan pemberian nama langsung dari Jokotole. Daerah ini dianggap penguasa Sumenep tersebut sebagai lokasi strategis, karena berada di tengah-tengah daerah lain yang termasuk dalam kekuasaan kerajaan Sumenep.
Letak yang strategis, dan dalam bahasa Madura kata tengah itu disebut “tengnga” atau “ellen tengnga” (Len Tengnga), sehingga selanjutnya dilafalkan Lenteng, dan menjadi nama kawasan tersebut.
“Lenteng juga dulu menjadi pusat jalur perekonomian dan perdagangan bagi daerah-daerah lain di Madura Timur. Jadi wajar apabila kemudian akselerasi pertumbuhan serta pembangunan sosial dan ekonominya lebih cepat dibandingkan dengan daerah lain di sekitarnya, kala itu,” kata RB Ja’far Shadiq, salah satu pemerhati sejarah lainnya di Sumenep. ( Han, Fer )