Media Center, Senin ( 01/01 ) Pemerintah Kabupaten Sumenep berencana mengagendakan Anugerah Award Sumenep kepada tokoh masyarakat kreatif dan inspiratif sebagai program tahunan.
Plt Seketaris Daerah Kabupaten Sumenep, R. Idris MM, mengatakan, pemberian penghargaan kepada masyarakat kreatif dan inspiratif, sejatinya merupakan bentuk kompetisi dalam berbuat kebaikan.
Bahkan program itu, juga sebagai bagian dari manajemen kebersamaan antara masyarakat dan pemerintah daerah melalui ajang kreasi dan inspirasi, karena roda pemerintah bisa berjalan sehat apabila ada sinergitas antara masyarakat, bisnis dan pemerintah.
“Saya kira program itu dan kalau perlu menjadi agenda tahunan pemerintah daerah untuk memicu masyarakat semakin kreatif dan inspiratif,”tegas Plt Sekda yang biasa disapa Gus Idris, saat gelar Rapat Bersama bulan Desember lalu, di Ruang Arya Wiraraja Kantor Bupati Sumenep.
Ia menyatakan, setelah penyerahan Anugerah Sumenep Award 2017, ada efek berkelanjutan kepada masyarakat untuk selalu berbuat lebih baik dan melahirkan berbagai ide dan kreatifitasnya membantu pelaksanaan pembangunan pemerintah daerah.
“Saya harapkan masyarakat untuk berperan aktif membantu program pemerintah daerah supaya menuai keberhasilan, karena kami (Pemda) tidak mungkin berjalan sendiri tanpa dukungan semua lapisan masyarakat.”pungkasnya.
Sementara itu, Anugerah Sumenep Award 2017 dengan Kategori Tokoh Wanita Inspiratif diberikan kepada Sunhiyah, karena sejak 1995 konsern terhadap isu-isu perempuan. Dia sukses menggerakkan dan mendampingi berbagai komunitas perempuan di Kabupaten Sumenep dan berbagai daerah di Indonesia. Selain menjadi Fasilitator Nasional, dia kini aktif mengabdi di BPM An-Nuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.
Kategori Tokoh Petani Inspiratif diberikan kepada Riyadi, karena tergolong petani otodidak tapi sukses berkreasi. Lewat pola tanam Tanpa Olah Tanah (TOT) dia berhasil merubah pola pikir petani Desa Bakiong, Kecamatan Guluk-Guluk. Hasil yang dirasakan petani binaan Riyadi adalah biaya tanam super hemat dan hasil tanam melimpah.
Kategori Tokoh Pasukan Kuning diberikan kepada Bagus Gunawan, karena menganggap membersihkan sampah bukan semata pekerjaan. Tapi sebagai ladang ibadah. Atas keyakinannya, ia secara ikhlas membersihkan tumpukan sampah demi keindahan Kota Sumenep.
Kategori Tokoh Pelaku Wisata diberikan kepada Sutlan yang telah berhasil menggerakkan masyarakat di desanya untuk mengemas Pantai Sembilan menjadi tempat wisata yang menarik. Kini Pantai Sembilan, Kecamatan Gili Genting menjadi salah satu objek favorit wisatawan bila berkunjung ke Sumenep. Dan Pemprov Jatim memberi penghargaan peringkat kedua dalam Anugerah Wisata Jawa Timur untuk kategori wisata alam.
Selanjutnya Kategori Tokoh Kebudayaan diberikan kepada Tadjul Arifien R, karena terlibat aktif sebagai pembina di berbagai sanggar kebudayaan dan seni di Kabupaten Sumenep. Seperti, Pembina Topeng Kanak Putra Sumekar dan Sanggar Tari Rato Ancha. Selain itu, ia juga aktif mengumpulkan dokumen sejarah dan tradisi Sumenep.
Kategori Tokoh Sastra diberikan kepada Fendi Kachonk, karena dengan semangat telaten, dia mendirikan taman baca Arena Pon Nyonar di Desa Moncek Tengah, Kecamatan Lenteng. Dari sejumlah karyanya ia mendapat kepercayaan untuk bergabung untuk menyusun buku kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia bersama para penyair ternama di Nusantara dan Asia.
Kategori Tokoh Penyandang Disabilitas diberikan kepada Misnaya, sosok yang secara fisik memiliki kekurangan. Namun, soal karya dan kemandirian jangan tanya. Selain mahir melukis, dia juga cakap bila didaulat sebagai penceramah agama. Kata Misnaya, “Diriku bagaikan sungai kecil yang mengalir hanya untuk air samudera,”.
Kategori Tokoh Aktivis Lingkungan diberikan kepada Mat Saleh yang telah berhasil menggerakkan pemuda dan warga Pulau Mamburit, Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean. Setiap hari Jum'at, dia menggelar bersih-bersih pemakaman umum, tempat ibadah dan pantai. Termasuk melakukan penghijauan dengan menanam Cemara di sepanjang pantai. Kini, Pulau Mamburit menjadi salah satu destinasi wisata bahari yang memukau.
Kategori Tokoh Pelestari Bahasa Madura diberikan kepada Moh. Taufik yang pernah dikukuhkan sebagai Sutradara Pangereng Pangantan Benosan, Lalamaran Dhuri Recek Saebu, dan Pangereng Pangantan Ngeka’ Sangger/Tandhu. Dia sangat antusias menjadi motor dan motivator untuk menjaga kelestarian bahasa dan budaya Madura dengan cara menyusun buku ‘Sangkolan Bukona Tamba’.
Kategori Tokoh Panutan Politik Bermartabat (kategori khusus) diberikan kepada KH. Ahmad Basyir AS, namanya sudah harum sejak dahulu. Bukan hanya sebagai tokoh agama dan pengasuh Pondok Pesantren An-Nuqayah Daerah Latee, Guluk-Guluk, Sumenep. Tetapi, beliau juga tokoh panutan di dalam bidang politik. Konsisten memperjuangkan nilai-nilai ideologi yang diyakininya tanpa pamrih.
Kategori Tokoh Pelaku Ekonomi Kerakyatan diberikan kepada Uswatun Hasanah yang telah berhasil menggerakkan Koperasi Wanita "Nur Hidayah" sebagai lembaga keuangan berbasis kekeluargaan. Dengan pola pinjaman tanpa agunan dan bagi hasil ringan, sangat membantu geliat ekonomi masyarakat Desa Marengan Laok dan sekitarnya. Dengan modal awal berdiri Rp 20 juta di tahun 2009, saat ini telah memiliki asset Rp 400 juta.
Kategori Tokoh Peduli Pendidikan Wilayah Kepulauan diberikan kepada H. Amir Hosen yang merupakan tokoh inspiratif dalam memajukan pendidikan keagamaan di Pulau Sapudi. Sejak 1986, dia mendirikan MTs Miftahul Ulum Gayam dengan biaya sendiri. Termasuk pembangunan gedung dan segala biaya operasional sekolah dia biayai sendiri. Atas jasanya, para alumni Mts Miftahul Ulum bertebaran di birokrasi, pengusaha, akademisi dan kalangan profesional.
Kategori Tokoh Agama (kategori khusus) diberikan kepada KH. Moh. Asy’ari yang dikenal sebagai sosok yang ‘alim dan sederhana. Di usia senja, beliau masih selalu berkhidmat di NU dan PKB yang selama ini menjadi pilihan pengabdian hidupnya.
Kategori Tokoh Tenaga Kesehatan diberikan kepada Ruskidah sebagai dukun beranak melayani masyarakat sepenuh hati dan tanpa pamrih. Sebelum ada bidan desa di Dusun Mandar Pulau Sapeken, ibu Ruskidah menjadi tumpuan warga untuk membantu persalinan. Meski waktu larut malam dan medan yang ditempuh sangat sulit dan berbahaya, ia tetap mendatangi rumah orang yang akan melahirkan. Tanpa melihat status sosial.
Kategori Tokoh Aktivis Kesehatan diberikan kepada Hadariadi tergolong aktivis dan pejuang kesehatan masyarakat miskin. Sejak 2010 hingga kini, lebih dari seribu warga miskin pengguna Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) yang didampinginya. Dia mendampingi pasien menggunakan biaya sendiri tanpa pamrih.
Kategori Tokoh Pemuda Desa Wisata diberikan kepada Syaiful Anwar yang aktif di dunia parawisata sejak 2006. Sehingga ia terpilih sebagai Duta Wisata Sumenep. Kini ia menjadi Ketua Asosiasi Desa Wisata Indonesia (Asidewi) dan aktif mendampingi warga sekitar objek wisata agar terlibat aktif memajukan dunia parawisata di Sumenep.
Kategori Tokoh Guru Ngaji diberikan kepada Kiai Arsyad Hafiluddin. Pada tahun 1970, beliau mendirikan Langgar Tabing tempat mengaji para remaja di Dusun Kotte, Desa Longos, Gapura. Hingga kini Kiai Arsyad masih setia menjadi guru ngaji tanpa memungut iuran dari para wali santrinya.
Selanjutnya Kategori Tokoh Pencipta Logo Sumekar (kategori khusus) diberikan kepada Raden Mas’oed yang berhasil menyisihkan 51 peserta sayembara pembuat lambang daerah Sumenep. Di tahun 1965, logo Sumekar dengan kuda terbang berhasil ia cipta. Dari tangan terampilnya, hingga kini menjadi simbol Pemerintah Kabupaten Sumenep. ( Yasik, Fer )