News Room, Jum’at ( 19/09) Untuk menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) perlu diberikan pembekalan pengetahuan dan ketrampilan yang memadai, sehingga kemampuan TKI untuk bekerja sesuai keinginan dan kemampuannya akan terwujud. Hal tersebut diungkapkan Ketua LSM Indonesia Migrant Service (IMS), Oktaviano Dino pada kegiatan Sosialisasi Diklat bahasa untuk TKI Korea program pemerintah, di Balai Latihan Kerja (BLK) Sumenep, Jum’at sore kemarin (19/09). Menurut Dino, yang juga Ketua Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI) ini, pihaknya tergerak untuk memberikan sosialisasi, pemahaman dan Diklat bahasa bagi para pemuda calon TKI di Madura, sehubungan setiap tahun pemulangan TKI ilegal di Jatim, dari Madura khususnya Sumenep cukup banyak. Mereka mudah diiming-imingi oleh para calo TKI ilegal, bahkan dengan membayar biaya yang tidak sedikit, namun keberangkatannya justeru secara ilegal. Data yang diperoleh dari Imigran Malaysia saja menurut Dino, jumlah TKI yang ada disana sekitar 4.400.000 TKI dan sekitar 50 persen merupakan TKI ilegal. “Padahal kalau memang dilakukan secara benar biayanya tidak sebesar yang dilakukan oleh calo secara ilegal. Bahkan untuk TKI ke Jepang, Australia dan Hongkong bisa tanpa biaya. Dan untuk ke Malaysia hanya sekitar Rp. 2.500.000,00,â€Âujar Dino yang asli Solo ini. Karena itu menurut Dino, pihaknya akan melaksanakan pendidikan dasar bahasa Korea setelah lebaran nanti di Madura, bagi sekitar 2.000 pemuda kurang mampu. Yang akan mendapatkan pinjaman pembiayaan Diklat sekitar Rp. 6.500.000,00 dari salah satu lembaga donatur. Sementara, peserta sosialisasi diikuti beberapa instansi terkait dan Muspika, anggota Dewan, unsur Tomas, pengurus Lembaga Islam, Sekolah, LSM dan unsur masyarakat lainnya. Pihak BLK Sumenep dan Dinas Tenaga Kerja Sumenep, saling memberikan respon positif terhadap LSM IMS ini, sehingga keinginan para pemuda di Madura, khususnya Sumenep dapat memperoleh pekerjaan yang memadai di luar negeri akan terwujud. Sebab disamping angka pengangguran akan berkurang, para TKI illegal yang selama ini cukup banyak dari Sumenep, akhirnya akan beralih secara legal. Setiap tahun, seperti yang diungkapkan Kepala Disnaker Sumenep, Drs. H. Madani, M.Si, pemulangan TKI ilegal dari Malaysia cukup banyak. ( Ren, Esha )