News Room, Selasa ( 14/07 ) Jembatan Suramadu yang menyambungkan pulau Madura dengan Surabaya sudah dinikmati oleh masyarakat sejak dua pekan ini, sebagai sarana transportasi alternatif yang mewah, cepat dan mudah. Namun, berbagai kalangan menilai akan ada banyak perubahan, utamanya Madura dengan segala persoalan yang akan dihadapi dengan kemajuan disegala aspek pasca Suramadu tersebut. Bahkan para Kiai Madura mulai menangkap gejala yang bakal terjadi, mau tidak mau Madura akan semakin maju dan berubah dengan perkembangan pembangunan sarana dan berbagai fasilitas yang akan masuk ke Madura. Karena itu, beberapa tokoh Kiai muda di Madura mulai melakukan langkah-langkah sebagai upaya mengantisipasi berbagai persoalan yang bakal dihadapi oleh masyarakat Madura sendiri dimasa yang akan datang. Terbukti, sejumlah Kiai sepuh di undang di salah satu Musholla di kediaman K. Sitrul A. Musa'i Kecamatan Ganding, Minggu (12/07) kemarin. Beberapa Kia sepuh yang hadir diantaranya KH. Idris Jauhari, KH. Moh. Rofi'i, KH. Sholil Imam, KH.Thoifur Aliwafa, serta beberapa Kiai sepuh lainnya. Bahkan Ketua DPRD Sumenep, Drs. KH. A. Busyro Karim, M.Si. Mereka membicarakan tentang terbentuknya Forum Komunikasi Kiai Muda Madura (FORKIM) yang diharapkan akan menjadi penyangga terhadap dampak pasca Suramadu ini, sehingga direncanakan dalam waktu dekat FORKIM ini akan dideklarasikan dengan berbagai masukan dan saran dari sesepuh para Kiai di 4 Kabupaten di Madura. Dalam pandangannya, KH. Idris Jauhari yang juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan berharap FORKIM nantinya benar-benar memiliki integritas yang tinggi untuk menegakkan keadilan dan memperjuangkan kebenaran. Sebab, tidak mustahil, semakin lama lalu lintas manusia dan teknologi akan padat, sehingga perlu adanya rambu-rambu, agar nantinya dengan kemajuan yang ada tetap memperhatikan beberapa aspek budaya dan agama sebagai daerah yang penuh dengan budaya religius. "Memang kita akui dampak yang akan terjadi pasca Suramadu ini, maka perlu semua aspek dibentengi dengan hal-hal yang dapat dimusyswarahkan bersama sejak saat ini,"ujar adik kandung Almarhum KH. Tijani Jauhari ini. Diharapakan pula, sebuah wadah organisasi yang akan di bentuk oleh para Masya'ig ini betul-betul menjadi organisasi yang bisa menjadi pengikat pertalian hati antara para Tokoh Islam di Madura. Dan bukan karena adanya interes pribadi, apalagi kelompok tertentu. Karena itu, diperlukan adanya kebersamaan dan kemauan keras dan memiliki integritas yang kuat serta kejujuran dalam menyelamatkan ummat Islam di Madura ini. Sementara itu, salah seorang penggagas terbentuknya FORKIM, K. Sitrul A. Musa'ie mengaku, digagasnya Forum para Kiai Muda tersebut bertujuan untuk lebih memberikan ide dan pemikiran bagi perkembangan Madura Pasca Suramadu. Diharapkan nantinya FORKIM ini akan lebih memperkuat tali silaturrahmi antar Kiai di Madura, utamanya dalam menyikapi dampak Suramadu bagi perkembangan Madura kedepan. Sementara untuk deklarasi FORKIM sendiri masih menunggu pertemuan berikutnya, yang akan lebih banyak mengundang para Kiai melalui Korda FORKIM dimasing-masing Kabupaten di Madura. ( Ren, Esha )