News Room, Kamis (28/04) Tidak menentunya cuaca akhir-akhir ini membuat para petani garam tetap was-was dengan hasil garamnya yang tidak maksimal. Sehingga, lagi-lagi akan membuat para petani garam kelimpungan. Karena itu, alih teknologi merupakan langkah tepat untuk menjawab kesulitan tersebut. “Sebab, jika para petani hanya tetap mengandalkan hasil garam pada saat musim kemarau, sepertinya saat ini sudah sulit, sebab hujan tetap seringkali datang meskipun saatnya musim hujan.” Ujar H. Suwarno, Warga Desa Karang Anyar Kalianget. Menurut pria yang juga Ketua Paguyuban Petani Garam Rakyat Kabupaten Sumenep ini, perlu ada solusi cerdas dengan upaya konkrit yang harus dilakukan pemerintah maupun perusahaan garam dalam meningkatkan industri garam di Indonesia. Salah satunya, dengan malakukan alih teknologi, agar upaya pemerintah dalam merevitalisasi industri garam ditanah air bisa terlaksana dengan baik. Dan bisa menghindari ketergantungan impor garam dari luar. H. Suwarno juga menyayangkan jika saat ini sekitar 80 persen garam Indonesia masih import dari luar negeri. Padahal, dulu Indonesia memiliki potensi industri garam terbesar di Asia, utamanya dari Madura. Disamping itu, pengawasan harga garam perlu juga menjadi perhatian. Karena seringkali harga garam tidak stabil dan merugikan petani. Utamanya ketika terjadi over produksi, seperti yang terjadi selama ini. Hal itu menjadikan petani garam enggan beraktifitas, sehingga banyak lahan garam dialih fungsikan dan sebagainya. Sebab, ketika harga jual garam tidak cocok dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan, akan membuat petani semakin tidak berdaya. Sementara, alih tehnologi selama ini banyak dilakukan perusahaan garam, sedangkan petani yang tidak memiliki modal besar sulit mengeyam alih teknologi. Karena itu, Pemerintah dan perusahaan garam seperti PT. Garam yang ada di Kalianget dapat menerapkan alih teknologi kepada petani. Yang nantinya dapat diwujudkan dengan bentuk kerjasama yang saling menguntungkan, baik Pemerintah, Perusahaan dan petani itu sendiri. Sehingga tidak hanya mensejahterakan petani gara, namun dapat menguntungkan perusahaan dan bisa memenuhi stok garam Nasional. “Kami yakin, petani juga akan konsekwen dengan kerjasama yang dilakukan pemerintah dan perusahaan. Sebab, cos untuk alih teknologi jelas memerlukan biaya yang cukup tinggi.” Pungkasnya. (Ren, y02k)