Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 12-06-2008
  • 571 Kali

Air Laut Kotor, Petani Rumput Laut Merugi

News Room, Kamis ( 12/06 ) Puluhan petani rumput laut di Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, terpaksa gigit jari. Pasalnya, rumput laut yang dibudidayakan tidak berkembang dengan baik, akibat kurangnya kecepatan angin di lautan dan kotornya air laut, sehingga, para petani rumput laut merugi dan harus rela menjualnya dengan harga pas-pasan. Kerugian yang dialami hampir mencapai Rp. 50 juta, sebab hasil penjualan rumput laut itu tidak mampu mencukupi biaya operasional, mulai pembelian bibit hingga perawatannya. Bayangkan saja, bibit rumput laut satu kilogramnya yang dibeli seharga Rp. 2.500,00, biasanya mampu menghasilkan 5 kilogram, tapi karena banyak yang rusak, maka hasil panennya cuma 2 hingga 3 kilogram. ”Kami rugi banyak gara-gara kurang angin dan air laut kotor,” kata Alwariyah (41) warga Desa Tanjung. Alwariyah menerangkan, meskipun harga jual rumput laut naik mencapai Rp. 2.000,00 per-kilogram, namun tetap saja tidak mampu menutupi biaya operasional. Karena, hasil panen yang didapat sangat kecil, bahkan rumput laut yang semula dipanen selama 40 hari, tapi akibat buruknya cuaca laut, rumput laut sudah dipanen lebih cepat. “Sekarang para petani rumput laut memanennya selama 15 hari, ada juga yang 26 hari. Kita khawatir, jika panen itu dilakukan seperti biasanya, rumput laut akan rusak semuanya,” terangnya. Hal serupa juga dialami Khotimah (34) warga setempat. Musim panen rumput laut saat ini, bukan memberikan keuntungan bagi para petani, tapi justru merugikan. “Kenaikan harga rumput laut tidak mampu mengangkat perekonomian para petani rumput laut,” ujarnya. Bahkan, Khotimah menjelaskan, hasil penjualan rumput laut tidak bisa mencukupi biaya pendidikan anak-anaknya. “Saya hanya bisa berharap, cuaca laut secepatnya kembali normal,” paparnya. ( Nita, Esha )