Media Center, Sabtu ( 29/05 ) Tuntutan masyarakat khususnya para orang tua siswa terhadap pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama masa pandemi COVID-19, yang dianggap kurang efektif membuat para pelaku pendidikan di Kabupaten Sumenep mencari solusi bagaimana agar bisa tetap melaksanakan kurikulum pendidikan.
Salah satu solusi yang dilaksanakan di Kabupaten paling timur di Madura ini yakni dengan menerapkan kurikulum darurat di masa pandemi yang bisa dilaksanakan secara Dalam Jaringan (Daring) maupun Luar Jaringan (Luring).
Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Abdul Kadir, M.Pd mengungkapkan, tuntutan masyarakat khususnya para orang tua siswa agar tetap bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka sangat luar biasa, bahkan bisa dikatakan ekstrem, karena menganggap anaknya tidak sekolah jika hanya melaksanakan PJJ.
“Bahkan, kekhawatiran sejumlah sekolah jika siswanya bisa pindah ke Madrasah atau ke Pondok Pesantren (Ponpes) yang menerapkan kurikulum berbeda, jika tidak segera dilaksanakan Pendidikan Tatap Muka (PTM), sehingga ini perlu dicari solusi,” ungkap Abdul Kadir saat ditanya Host Endah Imawati, di acara Live Tribun Jatim News kerja sama dengan INOVASI bertajuk Adaptasi Kurikulum saat Pandemi, Sabtu (29/05/2021).
Menurut Kadir, beberapa persoalan yang kerap dihadapi orang tua ketika anaknya bertanya kepada orang tuanya ketika ada tugas dari guru yang melaksanakan pembelajaran Daring, sehingga mengakibatkan terjadinya konflik anak dan orang tua yang tidak terbiasa mengajar, karena selama ini gurulah yang menjadi tempat belajar dan bertanya anaknya. Belum lagi keluhan biaya paket pulsa bahkan banyak juga siswa yang tidak memiliki Handphone (HP).
Karena itulah menurut Kadir, pihaknya bersama INOVASI yang selama ini menjadi mitra Dinas Pendidikan dalam meningkatkan pendidikan di Kabupaten Sumenep bersama para kepala sekolah, guru dan pengawas sekolah melakukan desiminasi, sehingga diperoleh solusi untuk melaksanakan kurikulum darurat di masa pandemi.
Sementara itu, salah satu Guru SDN Batuan 1 Kabupaten Sumenep, Maya Rusliyanti, S.Pd.SD, juga menjelaskan, dalam pelaksanaan penerapan kurikulum darurat yang dilaksanakan di sekolahnya sangat cocok dilaksanakan di masa pandemi. Sehingga ketika mengikuti workshop yang dilaksanakan INOVASI bersama Dinas Pendidikan Sumenep beberapa waktu lalu pihaknya sangat antusias. Apalagi di dalamnya dilatih bagaimana menerapkan kurikulum darurat yang menggunakan tiga modul, yakni modul untuk guru, siswa dan orang tua.
“Dengan modul tersebut sangat cocok karena bisa beradaptasi dengan kondisi yang ada, termasuk ketika disosialisasikan kepada para orang tua siswa mereka gembira karena siswa juga bisa membaca dengan senang,” jelasnya.
Bahkan, diakui Maya Rusliyanti, jika di sekolahnya saat ini sudah masuk zona hijau dan memungkinkan dilakukan PTM, namun tetap dilaksanakan tatap muka terbatas, yakni jumlah siswa dalam satu kelas tidak lebih dari 15 anak, jadi ketika jumlah siswa lebih di bagi dua sesi, setiap guru melaksanakan materi pembelajaran dua kali pertemuan.
"Meskipun dilakukan PTM sekolah juga tetap harus memenuhi sarana dan prasarana (sarpras) Protokol Kesehatan (Prokes) seperti pengukur suhu tubuh, alat pencuci tangan dan sebagainya, serta penerapan Prokes bagi guru dan siswa seperti memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak," pungkasnya. ( Ren, Fer )