News Room, Rabu ( 17/06 ) Terkadang, perbedaan suatu kelompok atau aliran dengan kelompok lain hanya masalah jalan yang dilalui dalam menuju kebenaran. Ibaratnya, 2 orang yang ingin menuju Kota Surabaya, namun melalui jalur yang berbeda. Hal yang sifatnya kurang prinsip ini kadang dijadikan sumber saling menyalahkan di kalangan umat Islam yang berbeda pendapat.
“Jadi jangan sampai terjadi takfir (mengkafirkan; red), hanya masalah beda pendapat. Karena, jika sampai itu terjadi, seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, takfir atau ucapan kafir seseorang terhadap seseorang lainnya itu akan diangkat kepada Allah SWT. Dan oleh Allah, predikat kafir akan dilimpahkan pada yang dituduh jika benar kafir, namun sebaliknya akan dikembalikan pada yang mengucapkan jika ternyata yang dituduh itu ternyata tidaklah kafir. Jadi seseorang yang sudah bersifat khasyya (takut kepada Allah SWT), pasti sudah paham betul esensi hadits tentang takfir tersebut, sehingga tidak akan serampangan memvonis atau melontarkan ucapan kafir pada orang lain,”kata KH. R. Taufiqurrahman Syakur, dalam sebuah taushiah keagamaan di Mushalla Asy-Syakur Kelurahan Bangselok.
Oleh karenanya, menurut Kiai Taufiq, Rasulullah SAW sudah menegaskan tentang lima kriteria khusus dalam memilih guru, disamping nash al-Quran mengenai ulama yang kesehariannya diwarnai sifat khasyya.
“Rasulullah bersabda duduklah atau belajarlah kalian bersama orang alim yang bisa mengajak seseorang dari lima perkara ke lima perkara yang lain. Yang pertama, duduklah kamu dengan seorang yang alim yang bisa mengajakmu dari perasaan ragu menuju pada perasaan yakin. Yang kedua, duduklah kamu dengan seorang alim yang bisa mengajak kamu meninggalkan sifat riya menuju kepada keikhlasan. Ketiga kata Rasul, duduklah kamu dengan seorang alim yang bisa mengajak kamu dari sifat sombong menuju ke sifat tawadlu. Yang keempat, duduklah kamu dengan seorang alim yang bisa mengajak kamu dari perilaku yang sering menimbulkan permusuhan menuju prilaku saling menasehati. Dan yang terakhir, duduklah kamu dengan seorang alim yang bisa mengajak kamu dari sifat yang selalu tamak pada urusan dunia, menuju kepada sifat zuhud,”urai Kiai Taufiq.
Dengan petunjuk yang sudah ada tersebut, menurut Kiai Taufiq tidaklah sulit bagi seseorang dalam memilih guru atau panutan dalam masalah agama.
“Jadi, saya kira sudah cukup jelas petunjuk Allah dalam Al-Quran, maupun hadits Rasulullah SAW. Meski kriteria menurut hadits tersebut tidak harus ada kelimanya. Itu hanyalah sebatas gambaran. Namun, tentu lebih utama jika kelima kriteria dalam hadits tersebut terpenuhi dalam diri guru atau panutan seseorang,”tutup Wakil Rais Syuriah PCNU Sumenep ini. ( Farhan, Esha )