News Room, Senin ( 27/01 ) Sedikitnya 468 hektar padi yang tersebar 24 desa di enam kecamatan, se-Kabupaten Sumenep, terancam gagal tanam. Pasalnya, ratysan hektar lahan pertanian yang sudah ditanami padi itu, terendam banjir. Enam kecamatan itu diantaranya Kecamatan Arjasa (Pulau Kangean) yang tersebar di 10 Desa sebanyak 232 hektar. Diantaranya Desa Bilis-bilis, Kolo-kolo, Laok Jangjang, Kali Sangka, Angkatan, Angon-angon, Pabian, Sambakati, Duko, dan Sumbernangka. Di Kecamatan Kota Sumenep terdapat 4 Desa, yakni Desa Paberasan 27 hektar, Kacongan 39 hektar, Pabian 5 hektar, Marengan Daya 7 hektar, total sebanyak 78 hektar. Kecamatan Dungkek ada 110 hektar, tersebar di Desa Candi 11 hektar, Bungin-bungin 23 hektar, Bunpenang 35 hektar, Lapataman 13 hektar, Dungkek 4 hektar, dan Taman Sare 24 hektar. Kecamatan Manding berada di 1 Desa, yakni Desa Lanjuk sebanyak 20 hektar, Kalianget, 1 Desa, Kalimo ok 45 hektar, dan Kecamatan Batang-batang berada di Desa Nyabakan, dan Jenangger sebanyak 3 hektar. Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Disperta) Kabupaten Sumenep, Ir. Bambang Heriyanto, M.Si menjelaskan, ratusan lahan padi yang terendam air itu belum bisa dikatakan gagal tanam. Apalagi, sekarang cuaca 2 hari ini mulai cerah, dan air yang menggenangi lahan pertanian sudah mengering. "Seandainya sejak Jumat (24/01) kemarin sampai Senin (27/01) ini lahan masih tergenang air, mungkin ada kearah gagal tanam. Tapi, karena cuaca mulai cerah, ya air di lahan pertanian sudah terserap,"kata Bambang, Senin (27/01). Sesuai hasil pantaun yang dilakukannya, ratusan hektar padi di lahan yang tergenang air itu masih bisa diselamatkan. "Kondisi padi sih aman-aman saja. Kita sudah cek lapangan, lahan yang tergenang sudah habis dan tanaman padi aman-aman kok. Jadi, masih bisa dietruskan,"terangkan. Ia berharap tidak ada hujan susulan dengan kapasitas tinggi, karena jika itu terjadi, dipastikan ratusan hektar lahan padi akan gagal panen, karena mayoritas padi masih berumur 1 bulan. "Semoga saja cuaca kembali normal. Kalaupun hujan ya mudah-mudah dalam intensitas rendah atau sedang. Sebab, kalau deras bisa-bisa lahan padi benar-benar gagal tanam,"ungkapnya. Bambang menambahkan, salah satu penyebab terjadinya banjir, adalah saluran air di sejumlah lahan pertanian tidak maksimal. Ditambah dangkalnya sungai di sepanjang lahan tersebut, sehingga tidak bisa menampung debet air yang cukup banyak. “Ini butuh antisipasi bersama dengan instansi terkait, agar tidak terjadi banjir susulan yang merendam lahan pertanian,”pungkasnya. ( Nita, Esha )