Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 13-10-2016
  • 2994 Kali

Mengenal Sosok Kiai Abdusy Syakur Yang Disegani Banyak Kalangan

News Room, Jumat ( 14/10 ) Sosok Kiai Raden Abdusy Syakur atau yang biasa disingkat K. R. Abd. Syakur bagi generasi saat ini mungkin kurang begitu populer. Namun sebaliknya, bagi generasi tiga jaman sebelum era reformasi, nama Kiai yang berdomisili di Jalan Manikam Kelurahan Bangselok ini sangat dikenal dan disegani banyak kalangan, khususnya kalangan Nahdliyin.

Kiai Raden Abdusy Syakur atau yang biasa dipanggil Kiai Syakur atau Dhin Syakur, Dhin merupakan penggalan kata dari Radhin atau Raden, lahir di Sumenep pada tahun 1919 Masehi. Beliau adalah putra pasangan Raden Sidin Joyowitomo dan Nyai Sabati, dari kampung Lao’ Sok-sok, Desa Pandian Kecamatan Kota Sumenep.

Dari segi nasab, Dhin Syakur berasal dari keluarga ulama dan bangsawan. Ayahnya, Raden Sidin adalah cucu dari Kiai Zainal Abidin, Penghulu Batuampar yang menikah dengan salah satu putri Raja Semarang yang wafat tahun 1830-an Masehi dan dikuburkan di Kabupaten Sumenep, yaitu Kangjeng Kiai Adipati Ario Suroadimenggolo  ke-V. Kangjeng Kiai ini adalah salah satu penguasa di masanya yang anti Belanda. Beliau juga adalah saudara sepupu Sultan Sumenep, Pakunataningrat, sekaligus mertuanya.

Sementara Kiai Zainal Abidin sendiri adalah cucu dari Kiai Ibrahim, saudara Bindara Saut (Raja Sumenep) dari lain ibu. Keduanya sama-sama putra Kiai Abdullah atau Kiai Batuampar, salah satu waliyullah dan ulama besar di masanya.

Menurut salah satu putra Kiai Syakur yang bernama Kiai Haji Raden Taufiqurrahman, Kiai Syakur menempuh jalur pendidikan umum dan salafiyah. Namun menurut Kiai Taufiq, panggilan akrab KH. R. Taufiqurrahman, tidak ada catatan yang jelas mengenai riwayat pendidikan Kiai Syakur.

“Hanya setahu saya, Kai (ayah; red) itu mengaji pada banyak kiai. Jadi gurunya banyak. Istilahnya tabarrukan. Cuma yang sering saya dengar beliau itu mengaji pada  Kiai Haji Zainal Arifin, Tarate, dan juga salah satu kiai yang alim di Desa Kebunagung. Hanya saya lupa nama kiai yang di Desa Kebunagung tersebut,” jelas Kiai Taufiq, kepada News Room.

Lepas dari menimba ilmu agama, Kiai Syakur mengajar mengaji. Disamping itu, aktivitas sehari-harinya juga sebagai pegawai pemerintah di PN Garam Sumenep. “Hanya saja, di PN Garam, Kai itu tidak lama, alias mengajukan pensiun dini,” kata Kiai Taufiq.

Kiai Syakur juga pernah aktif di politik. Beliau tercatat merupakan salah satu fungsionaris partai berlambang Ka’bah atau PPP (Partai Persatuan Pembangunan) di era Orde Baru. Bahkan Kiai Syakur juga tercatat sebagai Jurkam (Juru Kampanye) PPP.

“Namun, lagi-lagi beliau mengundurkan diri. Mengenai alasannya, saya juga kurang begitu tahu,” aku Kiai Taufiq.

Sementara di kalangan Nahdliyin, Kiai Syakur merupakan tokoh alim yang sangat dihormati. Beliau juga termasuk tokoh yang ikut membesarkan NU Kabupaten Sumenep.  Di NU, Kiai Syakur menempati posisi sebagai Musytasyar (penasehat).

Setelah memutuskan pensiun dini di PN Garam Sumenep, dan sekaligus mengundurkan diri sebagai anggota PPP, Kiai Syakur fokus pada kegiatan sosial kemasyarakatan. Beliau membina aktivitas pengajian bagi masyarakat umum yang difokuskan di sebuah mushalla atau langgar  di depan dhalem atau rumahnya di Jalan Manikam Kelurahan Bangselok.

Kegiatan tersebut ditekuni beliau hingga berpulang ke rahmat-Nya tahun 1990 silam. Saat ini kegiatan tersebut diteruskan oleh putranya, yaitu Kiai Taufiq.

“Alhamdulillah saya diberi kesempatan dan kemampuan untuk meneruskan peninggalan beliau, yakni perjuangan dakwah Kai,” tutup Kiai Taufiq. ( M. Farhan, Fer )