Media Center, Senin ( 23/01 ) Haul Akbar Sayyid Ali atau Kiai Ali di Asta Gumok, Desa Kalimook Kecamatan Kalianget, Minggu (22/01/2017), dipadati ribuan orang. Akibatnya, area haul yang disediakan panitia tidak bisa menampung seluruh jamaah undangan. Mereka yang tak kebagian tempat, berhamburan di sekitar area Asta Gumo’ dan hampir sepanjang jalan raya di sana.
“Tempatnya memang kurang luas. Apalagi memang yang diundang meliputi se-Jatim dan Bali,” kata salah satu alumni santri Barangbang, Adi Yono, kepada Media Center.
Dari informasi yang diberikan oleh Adi, yang hadir dalam haul pagi itu mencapai angka 3 ribu lebih. Mereka berasal dari keturunan Kiai Ali yang menyebar di seluruh Jawa Timur dan Bali, juga para alumni pesantren-pesantren yang diasuh oleh keturunan Kiai Ali. Seperti alumni pesantren di Loteng (Pasarsore, Kelurahan Karangduak), Barangbang, Kabupaten Sumenep bagian timur, wilayah kepulauan, dan lain-lain.
“Perkiraan jumlah jamaah itu berdasarkan pada jumlah konsumsi yang disediakan panitia,” imbuh Adi.
Sayyid Ali atau Kiai Ali merupakan salah satu ulama besar Kabupaten Sumenep di masanya. Beliau dikenal dengan salah satu karomahnya yang terbesar ialah mampu membuat seekor monyet bisa mengaji kitab suci al-Quran.
“Itu merupakan karomah yang sangat luar biasa. Mulai dari jaman Rasulullah SAW hingga saat ini belum pernah ada seorang Waliyullah se morok keban (yang mengajar hewan mengaji; red),” kata Ketua Panitia Haul, K. H. Moh. Arifin dalam sambutannya.
Haul Kiai Ali diperingati setiap tahunnya. Dalam sebuah keterangan, beliau wafat pada 1292 tahun Wawu dan dikuburkan di Asta Gumok. Dalam sejarah beliau diperkirakan hidup di paruh kedua kurun 1600-an Masehi.
“Berdasar riwayat turun-temurun beliau wafat pada hari Ahad terakhir di bulan Rabiuts Tsani. Hal itu yang kemudian menjadi acuan peringatan haul setiap tahunnya,” tambah Kiai Arifin.
Dari segi nasab, Kiai Ali memiliki nasab dzahabiyah hingga Rasulullah SAW. Nasab tersebut bermakna nasab emas, yaitu seorang wali putra wali, cucu wali, cicit wali, dan seterusnya waliyullah. Nasab Kiai Ali seperti yang disebut oleh sesepuh dan panutan Bani Ali saat ini, yaitu K. R. B. Ali Rahmat ialah, Kiai Ali bin Kiai Khathib Paddusan bin Pangeran Katandur bin Panembahan Pakaos bin Kangjeng Suhunan Kudus bin Sunan Ngudung/Undung bin Sayyid Ali Murtadla (Raja Pandita). Raja Pandita ini merupakan kakak kandung Kangjeng Suhunan Ampel. Keduanya merupakan putra Sayyid Ibrahim Zainal Akbar (Ibrahim Asmoro) yang memiliki susur-galur nasab hingga Sayyidina al-Imam Alwi Ammil Faqih.
“Sayyid Alwi ini nasabnya bersambung pada Sayyidina Ahmad al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi bin al-Imam Jakfar ash-Shadiq, hingga Sayyidina al-Husain bin Fathimah binti Rasulullah SAW,” jelas Gus Ali, panggilan R. B. Ali Rahmat.
Setelah pembacaan tahlil, surah Yasin, dan shalawat Nabi SAW, acara haul diisi juga dengan ceramah agama oleh Sayyid Ali al-Khirid dari Kecamatan Ambunten. Sayyid Ali atau Habib Ali dalam ceramahnya memberikan dua poin nasehat. Yang pertama ialah mengenai pentingnya akhlaq. Sedang yang kedua ialah tentang keimanan.
“Semua yang hadir saat ini saya yakin punya iman kepada Allah SWT. Hanya saja, kadar keimanannya tidak sama. Kalau semua manusia memiliki keimanan yang tinggi, maka tidak akan ada rasa khawatir atau takut dalam menjalani hidup. Karena semua yang terjadi adalah kehendak Allah SWT,” katanya.
Dalam kesempatan itu juga diisi dengan acara deklarasi pendirian Yayasan Bani Sayyid Ali. Menurut salah satu tokoh Bani Ali, K. H. Abdul Qadir Jailani, pendirian yayasan memiliki banyak maksud positif. Maksud utama ialah untuk mempersatukan seluruh keturunan Kiai Ali Barangbang yang menyebar di mana-mana.
“Ini juga bergerak di bidang pendataan. Yayasan juga nanti akan mengurus situs Kiai Ali. Kami juga berharap dalam waktu dekat di Asta Gumok ini bisa ada kantor Yayasan. Sehingga lebih mudah dalam hal fasilitas untuk peziarah,” kata Kiai Jailani.
Di samping itu, seperti juga yang dikatakan salah satu tokoh bani Ali lainnya, K. Fathorrahman, yayasan juga akan mendirikan lembaga pengajaran al-Quran. “Ini sangat penting. Karena dalam sejarah, Kiai Ali dikenal sebagai tokoh ulama yang juga intens mengajar al-Quran,” tutup Kiai Fathor, panggilan karibnya. ( M. Farhan, Fer )