Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 24-03-2015
  • 1024 Kali

Unsur-Unsurnya Mulai Hilang, Seni Tayub Tak Original Lagi

News Room, Rabu ( 25/03 ) Kesenian tari tradisional Sumenep pada hakikatnya beragam. Beberapa ahli budaya mengklasifikasi kelompok campuran dari seni tari tradisional, seperti misalnya tari Gambu, Tari Topeng, dan Tari Tayub.

Khusus seni Tari Tayub, saat ini dinilai salah seorang pengamat budaya Sumenep, H. Ahmad Baisuni sudah tidak original lagi. “Banyak unsur-unsurnya yang sudah hilang,”kata mantan Kasi Kebudayaan Kantor Dikbud Sumenep di era Orde Baru ini, pada News Room, Rabu (25/03). Unsur-unsur yang hilang itu di antaranya struktur tayub yang diabaikan. Sementara hal itu tidak boleh dipisahkan dari nyanyian yang silih berganti.

“Ada lagi, malah yang tampil itu tak tahu nayub, malah diberi sampur,”tambah salah seorang penasihat Tim Nabhara (Pembina Bahasa Madura) Kabupaten Sumenep ini.

Mengenai jarak pelaku seni dalam seni Tari Tayub menurut H. Baisuni, juga saat ini sudah tidak lagi diperhatikan. Padahal sesuai aturannya, jaraknya harus 1,5 meter. “Kalau  di istilah kita di sini itu, sadeppa atau satu depa,”imbuhnya.

Secara historis, seni Tari Tayub merupakan kesenian daerah Sumenep yang berakar pada budaya keraton. Di mana di dalamnya juga masuk unsur kesopanan, tak lepas dari batasan Islami, dan sekaligus mengandung pesan moral. Namun, kini tayub sudah banyak mengalami pergeseran makna.

Tandak atau penari perempuan dalam seni Tari Tayub saat ini diasumsikan tak lebih dari sekadar perempuan penghibur yang berfungsi menemani lelaki dalam pesta. Puncaknya, pertunjukan tayub dengan tandaknya sering diasosiasikan sebagai kesenian yang dekat dengan prostitusi terselubung dan perilaku amoral. Sebuah metamorfosis yang melenceng dari latar belakang seni tari ini. ( Farhan, Esha )