Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 09-10-2016
  • 190 Kali

Sosok Kiai Abdul Qidam, Leluhur Dinasti Terakhir Sumenep

News Room, Senin ( 10/10 ) Sejarah Sumenep tidak bisa lepas dari sosok Kiai Arsoji alias Kiai Abdul Qidam. Dari beliau ini, era di poros timur pulau garam ini, dimulai dari abad ke-18 dilukis oleh sebagian besar anak cucunya. Mereka menempati dua lini yang terus tak terpisahkan hingga detik ini. Duet ulama dan umara.

Kiai Abdul Qidam dikisahkan berasal dari arah Barat Kota Pamekasan. Barat di sini merujuk pada Kabupaten Sampang sebelum istilah Bangkalan populer. Dalam sebuah riwayat disebut jika beliau menerima perintah dari gurunya untuk menempati salah satu ruas di Kota yang kini berjuluk Gerbang Salam ini. Sehingga asal-muasal di sini memiliki dwi tafsir: asal tanah kelahiran atau bisa jadi merujuk pada tempat beliau menuntut ilmu.

Di sebuah catatan yang berisi tentang asal-usul Kiai Abdul Qidam, beliau disebut putra dari Nyai Selase. Sedang Nyai Selase sendiri adalah putri dari Nyai Tanjung atau Nyai Kumala dengan Kiai Abdullah atau Kiai Tanjung. Nyai Kumala merupakan salah satu putri dari Sunan Cendana, Kwanyar, Bangkalan. Sementara Kiai Abdullah berdasar catatan dari Bindara Habib di Bangkalan adalah putra dari Kiai Khathib Pasepen bin Pangeran Khathib Mantu. Jadi perkawinan Nyai Tanjung dan Kiai Abdullah adalah perkawinan sepupu dua kali atau dupopo dalam istilah Madura. Karena Kiai Khathib Pesapen dan Sunan Cendana masih bersaudara sepupu. Ibunda Sunan Cendana, Ratu Gede Kedatun bersaudara dengan Khathib Mantu, keduanya sama-sama anak Sunan Kulon dari Giri Kedaton.

Catatan yang kini dipegang dan diyakini oleh sebagian dari keluarga para kiai di Pamekasan yang notabene merupakan keturunan Kiai Abdul Qidam ini jelas menjadi versi baru bagi keturunannya di Sumenep. Dalam literatur Sumenep, Kiai Abdul Qidam merupakan seorang bangsawan utama di Kota ujung timur pulau garam. Kiai Abdul Qidam memiliki nama lain Raden Pandiyan. Beliau tercatat sebagai salah satu putra Raden Rajasa alias Pangeran Lor II, salah satu raja (Adipati) Sumenep.

Pangeran Lor II adalah putra Pangeran Wetan. Sementara Pangeran Wetan merupakan putra kedua Tumenggung Kanduruan. Susur-galur ini bermuara pada kasultanan Demak, Bintara; kerajaan Islam pertama di bumi Jawa. Karena Kanduruan merupakan salah satu putra Sultan Demak, Raden Fatah, yang ditugaskan mengisi kekosongan kursi pemerintahan di Sumenep, pasca wafatnya Pangeran Siding Puri tahun 1559 Masehi. Cerita tutur selanjutnya menyebutkan jika Kiai Abdul Qidam memisahkan diri dari kehidupan Keraton, dan berkelana dengan menyibukkan diri dalam aktivitas menuntut ilmu dan dakwah. Sementara yang mengganti Pangeran Wetan sebagai adipati Sumenep ialah saudaranya, Raden Abdullah alias Pangeran Cakranegara ke-I.

Riwayat dan sekaligus catatan mengenai asal-usul beliau ini menjadi pegangan keluarga Keraton Sumenep hingga saat ini, khususnya dari kalangan keluarga dinasti terakhir. Catatan ini selanjutnya juga dipakai dalam penyusunan buku Sejarah Sumenep (2003).

Namun di dalam buku Babad Sumenep karya Musaid alias Raden Werdisastra, asal-usul Kiai Abdul Qidam berbeda lagi. Nasab beliau justru bersusur-galur pada Kiai Sendir yang dalam versi tersebut merupakan keturunan langsung Pangeran Bukabu, raja Sumenep. Keterangan di buku yang bernama asli Bhabhad Songennep bahasa Madura beraksara gajang yang disusun 1914 silam itu juga diadopsi tanpa dikomentari oleh Zainalfattah alias Raden Tumenggung Ario Notoadikusumo mantan Bupati Pamekasan, dalam bukunya yang berjudul “Sedjarah Tjaranja Pemerintahan Di Daerah-daerah Di Kepulauan Madura dengan Hubungannja” (1951).

Kiai Abdul Qidam di buku Babad alih bahasa Madura latin oleh Musahru dan alih bahasa Indonesia oleh Moh. Thoha Hadi, disebut sebagai putra dari Kiai Talang Parongpong. Kiai Talang Parongpong juga ayah dari Kiai Khathib Bangil di Parongpong, Kecer, Dasuk, Sumenep. Kiai Khathib Bangil berputra Nyai Narema atau Nairima, isteri Kiai Abdullah Batuampar (Guluk-guluk, Sumenep), putra Kiai Abdul Qidam.

Dari beberapa versi tentang asal-usul tokoh agung ini sama-sama menerangkan bahwa beliau menikah dengan saudari dari Kiai Abdurrahman alias Kiai Agung Raba, Pakunya Pulau Madura di masanya. Lazimnya, pernikahan kalangan darah biru waktu itu memang tak jauh dari hubungan kefamilian yang cukup dekat.

Di tulisan babad disebut jika sudara perempuan Kiai Agung Raba menikah dengan saudara sepupu ayahnya. Dalam buku Babad Sumenep dan catatan silsilah kuna yang disimpan keluarga Parongpong, ayah Kiai Agung Raba, Kiai Abdullah (Kiai Sendir III) memang masih bersaudara sepupu dengan Kiai Abdul Qidam. Karena ibu dari Kiai Sendir III bersaudara dengan Kiai Talang Parongpong, sama-sama putra dari Kiai Abdullah Gunung Gelugur. Dari jalur pancaran laki-laki (pancer), baik Kiai Sendir III dengan Kiai Talang Parongpong sama-sama bersusur-galur pada Pangeran Bukabu.

Perbedaan versi nasab Kiai Abdul Qidam ini sempat menjadi tema sentral pembincangan para pakar silsilah di Madura khususnya Sumenep-Pamekasan, sejak 2010 silam. Namun belum ada titik temu. Kesimpulan sementara diduga ada kaitan catatan di Pamekasan dengan versi babad Sumenep. Alasannya, catatan Pamekasan hanya menyebut Nyai Selase sebagai ibu dari Kiai Abdul Qidam. Sedangkan versi babad dan catatan yang dipegang keluarga Keraton Sumenep hanya menyebut nama ayah Kiai Abdul Qidam meski berbeda versi.

“Tidak menutup kemungkinan bisa dikorelasikan kedua catatan tersebut. Sehingga menjadi tambahan info dan melengkapi catatan tentang kedua orang tua beliau,” kata Bindara Ilzam, salah satu pakar silsilah di Pamekasan yang juga masih memiliki garis silsilah ke Kiai Abdul Qidam, pada Media Center, melalui ponsel.

Senada dengan Bindara Ilzam, Bindara Abdul Hamid, penerus estafet yang melestarikan situs Kiai Agung Raba di Pademawu, Pamekasan, mengatakan bahwa Islamisasi di Madura tidak lepas dari peranan generasi Wali Songo yang notabene dari golongan saadah Bani Alawi. “Catatan yang menyebut bersambung ke Nyai Selase lebih kuat saya kira. Karena pribadi Kiai Abdul Qidam lebih condong ke trah kiai. Apalagi beliau masih ipar Kiai Agung Raba. Tradisi dahulu hubungan pernikahan itu tidak jauh dari hubungan darah kedua belah pihak. Jadi dengan menyebut Kiai Abdul Qidam berasal dari keluarga Keraton mungkin perlu dikaji ulang,” katanya.

Terpisah, pendapat Bindara Hamid seakan mendapat titik temu dengan komentar salah satu anggota keluarga keturunan bangsawan Sumenep, Raden Bagus Mohammad Muhlis Danafia. Menurutnya silsilah Kiai Abdul Qidam versi Keraton jelas bertolak belakang dengan kenyataan sejarah. Peristiwa penobatan Bindara Saut cucu Kiai Abdul Qidam sebagai Raja Sumenep pasca menikahi Ratu Tirtonegoro menuai pro-kontra. Alasan utamanya karena Bindara Saut bukan trah Keraton Sumenep, melainkan dari kalangan santri dan putra kiai.

“Padahal di catatan silsilah Keraton justru Bindara Saut-lah yang berhak. Karena trah. Ratu Tirtonegoro terhitung cucu keponakan. Dengan urutan Ratu Tirtonegoro-Pangeran Rama-Raden Ayu Otok-Tumenggung Tirtonegoro-Pangeran Cakranegara I-Pangeran Lor II. Sementara Bindara Saut-Kiai Abdullah-Kiai Abdul Qidam-Pangeran Lor II. Nah, kok bisa ada pro-kontra? Ini jelas bertolak belakang,” kata Gus Muhlis, panggilan akrab Mohammad Muhlis.

Salah satu anggota keluarga keturunan bangsawan Sumenep lainnya, Raden Panji Mohammad Mangkuadiningrat mengatakan bahwa sah-sah saja diadakan kajian nasab. Karena penulisan sejarah Keraton dulu diwarnai hegemoni penjajah. Tidak menutup kemungkinan ada campur tangan asing yang membelokkan sejarah.

“Dulu juga sejak masa hidup para leluhur dari dinasti Bindara Saut, salah satu rute ziaroh utamanya ke pasarean Pangeran Katandur di Bangkal. Tidak saya jumpai ada yang membiasakan ke Asta Sabu (pasarean keluarga Tumenggung Kanduruan), di Karangduak,” terangnya.

Namun, terlepas dari beberapa versi mengenai asal-usul Kiai Abdul Qidam yang jelas tidak akan mengecilkan pengaruh dan nama besar beliau. Persoalan perbedaan versi tidak hanya terjadi pada sosok beliau saja. Kajian sejarah tentu sangat niscaya, dan pada akhirnya pendapat terkuatlah yang lebih dekat dengan kebenaran; karena kita tidak hidup di masa beliau. Namun siapa pun beliau, buah tentu tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Macan dari macan, singa dari singa; begitu juga Sang Wali dari Wali. Maa fil aba fil abna. ( M. Farhan, Fer )