fix bar
fix bar
fix bar
fix bar
fix bar
fix bar
image

Menelusuri Jejak Kiai Panglegur, Salah Satu Ulama Sepuh Sumenep

  • 2020-06-29
  • infokom
  • 1132 Kali

Media Center, Senin ( 29/06 ) Nama Kiai Panglegur hampir tidak ditemukan dalam literatur sejarah awal Sumenep. Panggilan warga Sumenep lainnya pada tokoh ulama sepuh Sumenep ini ialah Buju' Panglegur.

Meski namanya bisa dikata tidak populer di dunia literasi sekaligus genealogi tokoh-tokoh awal Sumenep, Kiai Panglegur cukup populer di kalangan para peziarah wisata religi di Sumenep.

Panglegur sendiri adalah nama kawasan perkampungan yang secara administratif masuk Desa Pabian.

Dewasa ini, sedikitnya ada dua hal yang dinisbatkan pada Panglegur. Yang pertama stadion A. Yani Panglegur, dan yang kedua makam Buju' Panglegur.

"Kalau Buju' Panglegur memang dikenal sejak dulu sebagai makam keramat. Banyak yang berziarah ke beliau, dari semua kalangan," kata RB. Ja'far Shadiq, salah satu pemerhati sejarah di Sumenep, Senin (29/06/2020).

Makam Buju' Panglegur terletak di sebuah area pemakaman di Jalan Urip Sumoharjo, Desa Pabian.

Lokasinya berada di tengah persawahan. Namun di sekitarnya terdapat banyak rumah penduduk.

Dalam penelusuran Media Center dan Komunitas Ngopi Sejarah (Ngoser), Buju' Panglegur bernama asli Kiai Syamsuddin.

"Sayangnya tidak ada keterangan tentang asal usulnya," kata Ja'far, narasumber di atas yang juga sekaligus salah satu personel Ngoser.

Kisah Buju' Panglegur terekam dalam bentuk folklore, kisah lisan turun-temurun dan masyhur. Kisah itu tentang karomah yang menjadi penanda kewaliannya.

Menurut tradisi, Kiai Panglegur hidup sezaman dengan Kiai Imam di Desa Pandian. Makam Kiai Imam berada di Asta Pacangagan, Desa setempat.

Kiai Imam dikenal sebagai salah satu guru Kiai Raba, Pademawu Kabupaten Pamekasan. Kiai Raba adalah paman Kiai Abdullah Batuampar, ayah Bindara Saot.

Kembali pada Kiai Panglegur yang diketahui bernama Kiai Syamsuddin, dalam literatur babad dan tulisan tentang Sumenep awal tidak ditemukan.

"Umumnya babad menulis nama julukan tokoh. Seperti Kiai Sendir, Kiai Talang Prongpong, Kiai Batuampar dan lainnya," kata RB. Nurul Hidayat, salah satu pemerhati sejarah lainnya.

"Jarang yang menyebut secara detil dengan nama aslinya," tambah Nurul.

Meski demikian, dalam naskah-naskah kuna yang berceceran, Media Center menemukan setidaknya dua tokoh bernama Kiai Syamsuddin.

Kiai Syamsuddin yang pertama ialah nama mertua Pangeran Katandur. Dan Kiai Syamsuddin yang kedua ialah salah satu anak Kiai Ali Barangbang.

"Kalau dikomparasikan dengan masa Kiai Raba, yang masa kecilnya bertemu dengan Kiai Imam, maka kemungkinan Kiai Syamsuddin mertua Pangeran Katandur ini identik dengan Kiai Panglegur," kata Ja'far Shadiq.

Kiai Raba diyakini hidup pada abad 17. Dalam naskah babad (Werdisastra, 1914), Kiai Raba setelah dewasa mengaji ke Kiai Khatib Sendang salah satu anak Pangeran Katandur.

"Meski sekadar dugaan yang memerlukan kajian lebih lanjut, diperkirakan masa Kiai Syamsuddin, mertua Pangeran Katandur ini, sezaman dengan Kiai Syamsuddin Buju' Panglegur," jelas Ja'far.

Makam Kiai Panglegur sudah tidak original. Situsnya sudah hilang. Makam beliau berada di sebuah bangunan cungkup.

Di dalam cungkup ada dua makam lainnya yang nisannya masih kuna. Dari nisannya menandakan nisan tokoh perempuan.

Di depan cungkup terdapat sebuah pendapa kuna berukuran mini. Bahannya dari kayu jati yang masih kuat. ( Han, Fer )

image

Mengupas Sosok Banyak Wide, Dan Seputar Hari Jadi Sumenep (2)

Kategori : Pariwisata & Budaya

Media Center, Jumat ( 20/11 ) Dari segi nama, Banyak Wide sudah banyak melukiskan sosok sang Aria Adhikara ini. Kendati

image

Mengupas Sosok Banyak Wide, Dan Seputar Hari Jadi Sumenep (1)

Kategori : Pariwisata & Budaya

Media Center, Senin ( 26/10 ) Nama Banyak Wide mungkin tidak sepopuler Aria Wiraraja. Meski kedua nama itu merujuk pada

image

Misteri Raden Suderma, Sosok Yang “Hilang” Dalam Sejarah Sumenep (2-Habis)

Kategori : Pariwisata & Budaya

Media Center, Kamis ( 22/10 ) Hilangnya nama Raden Suderma dalam lembar sejarah Sumenep menyisakan pertanyaan panjang. Padahal dalam sebuah