News Room, Jumat ( 13/11 ) Salah satu koleksi Museum Keraton Sumenep yang memiliki daya tarik tersendiri, adalah sebuah Kereta Kencana Raja yang terlihat artistik dan anggun.
Kereta Melor, begitu orang Sumenep sejak dulu kala menyebutnya. Meski kata Melor menjadi kehilangan maknanya, sebab nama asli kereta tersebut ialah My Lord, kata asing dari negeri British, yang artinya Tuanku atau Tuan saya.
"Namun malah sebutan Melor yang lebih populer. Karena, hingga kini belum saya dengar orang Sumenep menyebutnya kereta My Lord,"kata H. Kurniadi Widjaja, salah satu tokoh Sumenep pada News Room.
Kenapa Haji Kurniadi terlihat paham dengan kereta kencana di masa Pemerintahan Sultan Sumenep, Abdurrahman Pakunataningrat ini ? Ada kisah tersendiri yang mungkin hingga kini tak banyak warga Sumenep yang mengetahuinya.
Kejadiannya sekitar 1990 silam. Saat itu Haji Kurniadi merupakan salah satu pejabat teras di Pemkab Sumenep. Jabatannya waktu itu Kabag Kesra dan Kemasyarakatan Setdakab Sumenep, tepatnya di masa Bupati Soegondo waktu itu. Di waktu itu, Haji Kurniadi menemukan kereta kencana Keraton sudah tidak utuh, bahkan sudah tak berbentuk. Waktu itu yang ada hanya roda kereta, dan pir.
Merasa prihatin, H. Kurniadi mengutarakan niatnya pada Bupati untuk merancang kereta kencana meski sudah tinggal berapa bagian kecil. Setelah disetujui, diajukanlah permohonan bantuan renovasi pada Pemprov. "Alhamdulillah, kita dapat bantuan dana sekitar Rp. 20 juta. Lalu dimulailah rencana tersebut,"cerita Kurniadi.
Meski sudah ada dana, bukan berarti tak ada masalah. Masalah yang paling rumit ialah tidak adanya literatur mengenai gambaran asli kereta kencana Melor.
Akhirnya, menurut Kurniadi, pihaknya mengundang ahli pembuat kereta kencana dari Keraton Jogja. "Lalu datanglah sekitar 7 orang dari sana,"kata H. Kurniadi.
Ke tujuh orang tersebut lalu minta ijin untuk menyepi atau melakukan laku tirakat di Asta Tinggi Sumenep agar mendapatkan petunjuk secara batin. Tujuh hari tujuh malam, tujuh ahli pembuat kereta itu menyepi, sampai datanglah petunjuk gaib.
"Selesai tirakat, para ahli itu datang ke saya dan menunjukkan rupa kereta yang didapatkan melalui petunjuk batin itu. Setelah itu mereka pamit pulang ke Jogja untuk memulai pekerjaannya membuat kereta. Roda dan pir dibawa ke Jogja,"kata H. Kurniadi. Kurang lebih 3 bulan, "Kereta Kencana Melor" kembali ke Sumenep.
Kereta kencana hadiah dari pemerintah Inggris pada Sultan Abdurrahman karena telah membantu menerjemahkan sebuah prasasti berbahasa Sanskerta itu, dipajang dengan apik dan menarik mata pengunjung untuk melihatnya dari dekat.
Penasaran, atas petunjuk H. Kurniadi, media ini mencoba membuka sebuah lapisan di sebuah bagian kereta. Dan benar di situ ada keterangan tahun pembuatan ulangnya, sekaligus masa pemerintahan Bupati waktu itu.
"Jadi, karena ada keterangan di masa Bupati Soegondo, saya tutup untuk menjaga perasaan Bupati baru yang mengganti. Itu fakta sejarahnya. Ya, sudah saatnya masyarakat Sumenep tahu. Itu saja,"tutup H. Kurniadi sambil tersenyum. ( Farhan, Esha )