Sms Pengaduan :
news_img
  • ADMIN
  • 20-07-2020
  • 3114 Kali

Asal Usul Desa Kecer, Salah Satu Desa Tertua Di Sumenep

Media Center, Senin ( 20/07 ) Desa Kecer merupakan salah satu desa paling sepuh di Madura Timur. Meski tidak bisa dipastikan sejak kapan nama Kecer ada, namun salah satu literatur kuna di Sumenep menyebut kawasan ini sudah ada sejak abad 14.

"Memang sifatnya folklore atau tradisi lisan. Namun memang rata-rata asal usul penamaan tempat di Sumenep memang tidak bisa lepas dari kisah-kisah yang sudah dianggap mitos," kata RB Nurul Hidayat, salah satu pemerhati sejarah di Sumenep.

Mengenai asal usul penamaan beberapa kawasan di Sumenep, Babad Songennep karya Raden Werdisastra (1914) memang menyinggungnya.

Bahkan tak hanya Sumenep, tapi juga di Madura secara umum.

"Seperti asal usul Socah, di Bangkalan. Omben di Sampang. Menurut babad, itu terkait dengan legenda Jokotole dari Sumenep," kata RB Ja'far Shodiq dari Komunitas Ngopi Sejarah (Ngoser), Senin (20/07/2020).

Kembali ke Kecer, yang saat ini merupakan nama salah satu desa di Kecamatan Dasuk, Sumenep, menurut legenda juga terkait dengan Jokotole meski tidak secara langsung.

Lebih tepatnya, terkait dengan peristiwa yang melibatkan ibunda Jokotole, yaitu Pottre Koneng, anak Pangeran Saccadiningrat II (penguasa Sumenep pada 1366-1386).

"Kecer menurut sesepuh di sini berasal dari kata ceccer atau ketinggalan," kata K. Faruq Dardiri salah satu tokoh muda di Kecer.

Konon hal itu terkait dengan sumber atau mata air Patellessan dan Duko. Yaitu dua sumber yang menurut legendanya biasa digunakan oleh Pottre Koneng.

"Patellessan Pottre Koneng pernah ketinggalan di salah satu sumber mata air di Kecer ini," kisah Faruq.

Patellessan merupakan istilah kain yang biasa dijadikan penutup saat mandi.

Di kawasan Kecer ini terdapat kampung Prongpong, yang sejak abad 15 menjadi lokasi tokoh-tokoh ulama kuna Sumenep.

Dari sini keturunan tokoh-tokoh Kecer menyebar, dan menjadi tokoh-tokoh keraton dan ulama besar.

Dari kalangan keraton lahir Bindara Saot, pembuka dinasti terakhir Keraton Sumenep (1750-1929) yang mengakar pada kalangan santri.

Sedang dari kalangan ulama, bermunculan tokoh-tokoh ulama sepuh di Sendir dan Lembung (Lenteng, Sumenep), serta Batuampar (Guluk-guluk Sumenep). ( Han, Fer )