News Room, Kamis ( 01/12 ) Olahraga gelut atau okol atau keket dalam bahasa Maduranya mungkin sangatlah asing bagi generasi sekarang. Padahal di jaman lampau atau kuna, olahraga ini sangat digemari dan menjadi pertunjukan khas Keraton. Bahkan sejak masa-masa awal pemerintahan Sumenep.
“Sejarahwan Zainalfattah menyebut bahwa olahraga ini sudah populer sejak masa pemerintahan Jokotole di Sumenep,” kata salah satu pemerhati muda sejarah Kabupaten Sumenep, R. B. Nurul Hidayat, pada News Room.
Ceritanya dimulai sejak Jokotole—dalam kisah babad—datang ke Majapahit untuk membantu ayah angkatnya, empu Kelleng. Diceritakan waktu itu Raja Majapahit yang gemar menggelar pertunjukan olahraga gelut meminta Jokotole untuk mengikutinya.
“Saat itu yang mengikuti gelut hanya kalangan pendekar. Mereka bertanding sampai hanya tinggal satu yang tak terkalahkan,” cerita Nurul.
Singkat cerita, Jokotole tak hanya mengalahkan juara Gelut Majapahit, namun semua pendekar yang didatangkan saat itu. Kisah Jokotole yang masyhur itu lantas menjadi tradisi olahraga okol di Sumenep pada masa pemerintahan Jokotole.
“Olahraga itu diselenggarakan di keramaian. Artinya rakyat diminta datang beramai-ramai untuk menonton dan memeriahkannya. Jadi ya sorak-sorai dan keriuhan terdengar saat penonton melihat jagoannya unggul,” tambah Nurul.
Lambat laun tradisi gelut atau okol ini beralih rupa dalam format lain. Entah siapa yang memulai gelut atau okol menjadi sarana untuk memohon hujan. “Biasanya diselenggarakan di musim kemarau,” kata Nurul.
Tradisi serupa ialah ritual Ojung. Namun bedanya, okol tidak memakai alat. Sedangkan ojung memakai senjata sejenis pecut yang ujungnya berupa rotan yang dikepang. “Di beberapa tempat Okol maupun Ojung masih digelar. Namun seiiring berjalannya waktu sudah kurang populer. Padahal ini berakar sejarah. Semoga ke depan tetap lestari dan tidak punah,” tutup Nurul. ( Farhan, Fer )